Jumat, 05 Oktober 2018

Peri

Aku mendapati seorang peri
Berambut panjang dan matanya yang teramat menggoda
Senyumnya lembut, bertutur kata pelan

Aku ingin menggenggam tangannya
Memeluk tubuhnya agar tiada lagi pilu yang dapat memenjarakan aku
Tiada lagi letih yang mampu mencuramkan aku
Tatkala matanya merengkuh ingatanku,
Disaat jemarinya bermain di pipiku,
Aku serasa tiada dalam gemulai kasih sayangnya

Ia menyerupai gemintang yang menutupi langit malam
Cantik dan mengagumkan
Samudra, benua dan semua cakrawala berada di kaki yang sama.
Gemilang rupanya, mengharuskan aku untuk memeluknya

Akan aku sertakan ia bait-bait puisi 
Menyentuhnya sejari demi sejari, sedalam kata penumpuk rindu, seluas tinta penangkal pilu.

ketikanku-alfarizi.blogspot.com

Segala vokal dan konsonan sajakku kian terhubung
Tatkala penyebranganku hadir tepat di hadapanku
Tatkala seok langkah menghampiri
Ruang, waktu, dan dimensi bersimpati menyanjungku
Menanggalkan jubah dan melepaskan topeng masa laluku
Selarik tantangan, beraksara diam Menggelitikku dalam dunia cinta

Getaran-getaran pada daun telingaku di ambang gendang
Serpihan harta di malam nun basah naas tersenyum menyapa
Dalam kotak tak bersuluh, menggelepar di sudut ruangan
Kini, seluruh tubuhku di gerogoti detak seorang pujangga
Pakaian kusam dengan sikat gigi, tiada puas lalu membisu di terpa kerinduan

Ketika rinai tak lagi membiaskan pelangi
Ketika jagad terpanggang matahari
Simpanlah aku di bilik hatimu
Karena aku akan menjadi angin yang bergerak memainkan hatimu
Berdesir, membelai semak-semak perdu, bakul-bakul musim, dan ladang-ladang asing
Dari kutub kekutub, detik berlalu tanpa degup, berlayar bersama sunyi disaat kau dan aku menyapu debu masa lalu.

-alxwy



0 komentar:

Posting Komentar