setiap tarikkan napas yang ku hempas,
dan setiap debaran nyata yang kian mengeras.
Aku masih teringat rupamu,
kali terakhir bersemuka berbulan-bulan yang lalu.
Oleh karena itu,
aku tuliskan sebuah surat penawar rindu.
Biar angin yang membisikkannya kepadamu,
yang sempat kuharap rela kembali kepadaku.
Aku pernah menjadi manusia bodoh.
Berjalan bersama lain orang di depanmu yang acuh.
Lain orang yang sempat menjadi pilihanku,
yang nyatanya hanya sebuah jebakan pilu.
Lain orang yang ternyata palsu,
penuh kepura-puraan yang begitu merepotkan.
Lain orang yang ternyata palsu,
sumber dari segala nestapaku.
Aku pernah menjadi manusia lompong,
dengan jiwa yang kosong melompong.
Berlari bersama lain orang,
meninggalkanmu yang nampaknya rumpang.
Baru kini kusadari,
telah bertahun-tahun melanglang buana 'tak menentu,
tanpa henti mencari suaka.
Berharap bertemu denganmu,
lelaki manis bernama Dikara.
Kau pernah mengajarkanku untuk merindu,
untuk memikirkanmu tanpa henti seiring waktu berlalu.
Kau pernah mengajarkanku untuk menanti,
waktu yang 'tak tentu untuk sekadar saling meniti.
Kau pernah mengajarkanku untuk mencinta,
menunggu sampai tepat benar bisa bersua.
Kau pernah ada dan setia,
meski akhirnya aku buat sia-sia.
![]() |
| ketikanku-alfarizi.blogspot.com |
Dikara,
entah sampai kapan aku merana.
Merutuki kemalanganku yang telah lalai,
yang telah cupai.
Andai saat itu aku bersabar sedikit saja,
mungkin akhir cerita kita adalah romansa.
Sudahlah, aku tidak ingin berandai-andai,
cukup, aku yang telah bodoh dan lalai.
Entah kini di mana dirimu berada,
aku harap kau selalu sehat-sehat saja.
Tidak lebih dan tidak kurang,
aku harap kau menemukan wanita yang mampu berjuang.
Senantiasa menemanimu sampai hari tua datang menjelang.
Dariku yang entah sampai kapan akan merindu, dan berharap masih memiliki ruang di hatimu.
Dikara,
kau buat aku jatuh dan mencinta.
Sejak hari itu,
masih.
—stella.
#alexadler
4ward: malf


0 komentar:
Posting Komentar