Aku mencintaimu, yang tiada sebab dan akibat untuk meninggalkan, tiada perantara yang menjadikannya ragu.
Aku mencintaimu tanpa alasan yang seringkali dipermasalahkan, tanpa perkara duniawi yang bersifat sementara.
Aku mencintaimu yang tiada berkesudahan, tiada kekal hingga kembali ke kampung halaman.
Aku mencintaimu yang tiada diperdebatkan, tanpa alur seperti politik berlengan panjang.
Aku mencintaimu yang tiada orasi maupun sorak sorai seperti sebuah pertunjukan, tanpa perhelatan yang menampakkan segalanya.
Aku mencintaimu, tanpa tanya dan jeda, saling terhubung yang demikian terikat.
Aku mencintaimu, suara lembut menyentuh, embun terbawa dengan dinginnya.
Aku mencintaimu, puisi tersirat, sepinya dalam lamunan, yang menggetaran seisi bumi.
Aku mencintaimu, yang rindu tertuju padamu, menjadikannya menetap tanpa lelah untuk bercumbu.
Aku mencintaimu, benderang rembulan diatas gemintang, menjadikannya indah pada senyum nun merekah.
Aku mencintaimu, mengudara memasuki setiap celah persendianku, menjadikannya hujan pada setiap doa dan ikhtiar.
Aku mencintaimu, menutupi lara yang kian berontak, menjadikan amarah luluh tanpa bisa kembali utuh.
Aku mencintaimu, menjadi kaku pada jasadku yang ingin memeluk ragamu, dengannya kembali hidup, setengah kesempurnaan sebelum lelap mendatangiku.
Dan aku mencintaimu, padamu dan untukmu kasih sayang dalam satu ikatan, menjadikannya bahagia hingga pulang aku dapatkan.
#xw
Aku mencintaimu tanpa alasan yang seringkali dipermasalahkan, tanpa perkara duniawi yang bersifat sementara.
Aku mencintaimu yang tiada berkesudahan, tiada kekal hingga kembali ke kampung halaman.
Aku mencintaimu yang tiada diperdebatkan, tanpa alur seperti politik berlengan panjang.
Aku mencintaimu yang tiada orasi maupun sorak sorai seperti sebuah pertunjukan, tanpa perhelatan yang menampakkan segalanya.
Aku mencintaimu, tanpa tanya dan jeda, saling terhubung yang demikian terikat.
Aku mencintaimu, suara lembut menyentuh, embun terbawa dengan dinginnya.
![]() |
| ketikanku-alfarizi.blogspot.com |
Aku mencintaimu, puisi tersirat, sepinya dalam lamunan, yang menggetaran seisi bumi.
Aku mencintaimu, yang rindu tertuju padamu, menjadikannya menetap tanpa lelah untuk bercumbu.
Aku mencintaimu, benderang rembulan diatas gemintang, menjadikannya indah pada senyum nun merekah.
Aku mencintaimu, mengudara memasuki setiap celah persendianku, menjadikannya hujan pada setiap doa dan ikhtiar.
Aku mencintaimu, menutupi lara yang kian berontak, menjadikan amarah luluh tanpa bisa kembali utuh.
Aku mencintaimu, menjadi kaku pada jasadku yang ingin memeluk ragamu, dengannya kembali hidup, setengah kesempurnaan sebelum lelap mendatangiku.
Dan aku mencintaimu, padamu dan untukmu kasih sayang dalam satu ikatan, menjadikannya bahagia hingga pulang aku dapatkan.
#xw




